BeritaHEADLINESumatera Utara

Penanaman Pohon di Kawasan Danau Toba: Langkah Nyata Mengatasi Ancaman Banjir dan Longsor Sekaligus Meningkatkan Nilai Ekonomi dan Karbon

×

Penanaman Pohon di Kawasan Danau Toba: Langkah Nyata Mengatasi Ancaman Banjir dan Longsor Sekaligus Meningkatkan Nilai Ekonomi dan Karbon

Sebarkan artikel ini
Para penggiat lingkungan dipimpin Wilmar Simanjorang.

Views: 161

SAMOSIR, JAPOS.CO – Kawasan Danau Toba (KDT), khususnya di Kabupaten Samosir, tengah menjadi sorotan dalam upaya pelestarian lingkungan melalui kegiatan penanaman pohon yang bertujuan tidak hanya mengurangi risiko bencana alam seperti banjir dan longsor, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi dan karbon yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pohon berperan penting dalam menjaga kestabilan tanah. Akar-akar yang kuat dan mencengkeram luas membantu mencegah erosi, abrasi, serta tanah longsor yang seringkali menjadi ancaman di wilayah perbukitan dan lereng. Melihat urgensi tersebut, penulis bersama para pemangku kepentingan dan pengambil keputusan dari berbagai lapisan masyarakat, mendorong dan melaksanakan aksi nyata berupa penghijauan di lahan-lahan kritis dan lahan tidur di Kabupaten Samosir.

Program Penghijauan: Kolaborasi Multi-Pihak

Kegiatan rehabilitasi lingkungan dilakukan secara masif melalui program-program konservasi lintas sektor. Total luasan penghijauan mencapai 570 hektare, terbagi menjadi beberapa skema kolaborasi, antara lain:

  • 500 ha melalui Program Inalum-PJT bersama PT Maheer, dengan pengawasan dari Politeknik WBI.

  • 50 ha melalui kerja sama Inalum-PJT dengan organisasi kemasyarakatan Parsadaan Pomparan Toga Sinaga Dohot Boru (PPTSB).

  • 10 ha dalam Program Penyelamatan Kawasan Danau Toba bersama Kelompok Tani Hutan Hutaginjang Lestari dan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP DAS) Asahan Barumun.

  • 10 ha dilakukan secara mandiri oleh masyarakat sekitar.

Capaian dan Kendala di Lapangan

  1. Program Inalum-PJT – PT Maheer (500 ha)

    • Realisasi hingga Februari 2025: 188,94 ha (38%)

    • Lokasi: Salaon Dolok, Salaon Tonga, Salaon Toba, Tanjung Bunga, Sianjur Mula-mula

    • Tantangan: Keterbatasan bibit sesuai spesifikasi dan kurangnya tenaga kerja untuk penanaman.

  2. Program Inalum-PJT – PPTSB (50 ha)

    • Realisasi Februari 2025: 38,14 ha (76,3%)

    • Target selesai Maret 2025: sisa 11,86 ha

    • Lokasi: Desa Urat, Pardomuan Nauli, Hutaginjang, Hatoguan

    • Tantangan: Kekurangan bibit pinus dan konflik horizontal terkait tanah di Pardomuan Nauli.

  3. Program Hutaginjang Lestari (20 ha)

    • Realisasi hingga April 2025: 100% (20 ha)

    • Tantangan: Minimnya sumber daya perawatan.

Nilai Ekonomi dan Karbon dari Penanaman Pohon

Dari total luasan 50 ha yang dikelola oleh kelompok masyarakat, diperoleh proyeksi hasil ekonomi dan karbon yang sangat signifikan dalam jangka panjang.

Proyeksi Nilai Ekonomi (Tahun ke-10):

  • Total Potensi Pendapatan: Rp 10,8 miliar per tahun

  • Komoditas Unggulan: Cengkeh (Rp 7,1 miliar), Kemiri (Rp 1 miliar), Alpukat, Pinus, Jengkol, Aren, Mangga, dan Durian

  • Jumlah Tanaman: ±20.000 pohon dari 9 jenis tanaman produktif

Proyeksi Nilai Karbon (Tahun ke-10):

  • Total Estimasi Karbon Diserap: 58,27 ton/tahun

  • Potensi Nilai Pasar Karbon: ±Rp 58 juta/tahun

Nilai ini hanya berasal dari 50 ha, dan dapat dijadikan acuan bahwa program 570 ha memiliki potensi nilai ekonomi dan karbon yang jauh lebih besar.

Potensi Luas: Menuju Restorasi 25.000 Hektare Lahan Kritis

Apabila kegiatan serupa diperluas hingga mencakup lahan kritis di luar kawasan hutan seluas lebih dari 25.000 ha di Samosir, maka proyeksi nilai ekonominya bisa mencapai lebih dari Rp 5,4 triliun per tahun, dengan potensi nilai karbon melebihi Rp 29 miliar per tahun.

Manfaat Ekologis: Mencegah Bencana Alam

Manfaat penanaman pohon tidak hanya berhenti pada nilai ekonomi dan karbon. Secara ekologis, pohon:

  • Menahan partikel tanah dari pengikisan air dan angin

  • Memperbaiki struktur tanah sehingga tidak mudah longsor

  • Menyerap air hujan dan mengurangi limpasan permukaan

  • Meningkatkan kelembaban tanah dan kualitas udara

Rekomendasi dan Tindak Lanjut

Upaya lanjutan yang mendesak dilakukan untuk mengoptimalkan manfaat penghijauan di KDT, khususnya di Samosir, mencakup:

  1. Pencegahan penebangan liar di kawasan hutan alam.

  2. Larangan pembangunan permukiman di wilayah rawan longsor.

  3. Terasering dan konservasi lahan di daerah lereng terjal.

  4. Perawatan intensif pohon yang telah ditanam: penyiraman, pemangkasan, pengendalian gulma, pemupukan, serta pemantauan rutin.

  5. Pelibatan aktif pemerintah daerah dan DPRD Kabupaten Samosir dalam mendukung pendanaan, kebijakan, dan pendampingan teknis kepada kelompok tani.

Penanaman pohon bukan hanya sekadar aksi simbolik, melainkan strategi jangka panjang untuk menciptakan ketahanan lingkungan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menyelamatkan Danau Toba sebagai warisan alam dunia. Dengan dukungan semua pihak, upaya ini berpotensi menjadikan Samosir sebagai model sukses konservasi berbasis masyarakat yang berkelanjutan dan berdampak luas.***

Oleh : Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_Ec.,M.S (Penulis adalah Penggiat Lingkungan/Ketua Pergerakan Penyelamatan Kawasan Danau Toba).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *