BeritaHEADLINESumatera Utara

HKBP Ikut Berperan Aktif Melestarikan dan Perawatan Kawasan Danau Toba

×

HKBP Ikut Berperan Aktif Melestarikan dan Perawatan Kawasan Danau Toba

Sebarkan artikel ini
Doa Bersama Untuk Merawat dan Melestarikan Kawasan Danau Toba.

Views: 360

Oleh : Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_Ec.,M.Si

SAMOSIR, JAPOS.CO – Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Pendeta Dr. Victor Tinambunan, memimpin doa bersama bertajuk “Merawat Alam Tano Batak”  Selasa (01/04), di Sopo Bolon HKBP Pangururan-Samosir  Sumatera Utara. Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk pegiat lingkungan hidup, tokoh adat, akademisi, pemuda, dan perwakilan pemerintah, sebagai bentuk kepedulian terhadap dinamika masyarakat adat serta permasalahan pencemaran dan kerusakan lingkungan di Tanah Batak.

Dalam khotbahnya, Ephorus menekankan pentingnya hubungan harmonis antara manusia dan alam, serta menyerukan pertobatan bagi mereka yang telah merusak lingkungan. Beliau mengingatkan bahwa tanah adalah bagian dari ciptaan Tuhan yang harus dihormati dan dirawat dengan baik. HKBP, sebagai lembaga keagamaan yang memiliki pengaruh besar di masyarakat Batak, merasa bertanggung jawab dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan dan kesadaran lingkungan kepada jemaatnya.

Selain itu, Ephorus juga menyoroti berbagai bencana alam yang sering terjadi di Tano Batak, seperti banjir dan tanah longsor, yang menurutnya bukanlah ujian dari Tuhan, melainkan akibat dari ulah manusia yang memerlukan pertobatan dan kesadaran untuk merawat lingkungan. Beliau menekankan bahwa kerusakan lingkungan ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti penebangan liar, eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali, serta minimnya kesadaran akan pentingnya konservasi alam. Oleh karena itu, beliau mengajak semua pihak untuk melakukan tindakan nyata dalam upaya melestarikan alam dan mengembalikan keharmonisan ekosistem di wilayah Danau Toba.

Kegiatan doa bersama ini juga disertai dengan seminar lingkungan yang menghadirkan beberapa ahli ekologi dan pemerhati lingkungan. Mereka membahas berbagai strategi untuk mengatasi pencemaran dan degradasi lingkungan di sekitar Danau Toba. Salah satu solusi yang diusulkan adalah peningkatan penghijauan dengan menanam kembali pohon di daerah-daerah yang telah mengalami deforestasi serta pengelolaan limbah domestik dan industri yang lebih baik agar tidak mencemari air dan tanah.

Selain itu, dalam kesempatan tersebut, komunitas pemuda HKBP turut serta dalam kampanye gerakan bersih-bersih Danau Toba. Mereka mengumpulkan sampah plastik dan limbah lainnya di sepanjang pesisir danau sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Kegiatan ini mendapat apresiasi dari masyarakat sekitar yang turut bergabung dalam aksi tersebut.

HKBP juga berencana untuk menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah serta lembaga konservasi lingkungan guna menciptakan program jangka panjang yang berkelanjutan. Program-program ini mencakup pendidikan lingkungan bagi anak-anak sekolah, penyuluhan bagi petani dan nelayan mengenai praktik ramah lingkungan, serta peningkatan kebijakan konservasi alam melalui peraturan daerah yang lebih ketat.

Doa bersama ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran kolektif dalam menjaga kelestarian Danau Toba dan lingkungan sekitarnya, serta mendorong upaya konkret dalam merawat alam demi kesejahteraan bersama. Dengan adanya partisipasi aktif dari masyarakat dan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan ekosistem Danau Toba dapat kembali terjaga, sehingga dapat terus menjadi sumber kehidupan bagi generasi yang akan datang.

Menanggapi hal itu, Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_Ec., M.Si, seorang penggiat lingkungan sekaligus Ketua Pergerakan Penyelamat Kawasan Danau Toba, memberikan apresiasi kepada Eporus HKBP, Pdt. Dr. Viktor Tinambunan, atas peran aktifnya dalam menjaga kelestarian lingkungan di Kawasan Danau Toba.

Menurutnya, pemulihan dan perawatan lingkungan memerlukan edukasi serta upaya konkret dalam konservasi, termasuk penanaman pohon, guna menghadapi krisis ekologi di kawasan tersebut. Seperti yang dikatakan para pendahulu kita, “Seseorang tidak menanam pohon untuk dirinya sendiri, tetapi untuk generasi mendatang.” Pekerjaan nyata manusia bukan hanya untuk zamannya sendiri, melainkan untuk masa depan.

Pohon memiliki nilai ekologis yang sangat besar. Selain memperindah lingkungan, pohon juga berperan dalam keseimbangan ekosistem. Dalam Kitab Kejadian, hampir sepertiga ayatnya menyinggung tentang pohon, menandakan betapa pentingnya keberadaan pohon dalam kehidupan manusia. Tuhan mencintai pohon, dan dalam Alkitab, pohon merupakan makhluk hidup yang paling banyak disebutkan setelah manusia dan Tuhan.

Menanam pohon memiliki banyak manfaat, di antaranya menyerap karbon dioksida, meningkatkan ketahanan pangan dan gizi bagi komunitas yang rentan terhadap perubahan iklim, serta membantu membangun ketahanan terhadap dampak perubahan iklim, termasuk ketahanan air. Saat ini, lebih dari sebelumnya, masyarakat Batak harus menyadari pentingnya menanam pohon demi masa depan generasi mendatang. Sebagai gambaran, satu pohon sonokeling (Dalbergia latifolia) setinggi 10 meter mampu menghasilkan 207,33 kilogram oksigen per hari, mencukupi kebutuhan 177-239 orang. Sementara itu, satu pohon akasia menghasilkan 143,33 kilogram oksigen per hari, cukup untuk 122-165 orang.

Ahli geobiologi Hope Jahren pernah mengatakan, “Orang tidak tahu cara menumbuhkan daun, tetapi mereka tahu cara menghancurkannya.” Ketika kawasan Danau Toba semakin padat, anak-anak perlu mengetahui lebih dari sekadar beton di bawah kaki mereka. Mereka harus melihat dan merasakan keindahan alam, termasuk naungan pohon dan cabang-cabangnya yang kokoh. Oleh karena itu, pohon yang kita tanam harus mencakup pohon endemik dan pohon berbuah, yang kuat menghadapi berbagai kondisi cuaca serta menjadi warisan bagi generasi mendatang.

Dalam berbagai forum dan diskusi dengan pejabat tinggi negara, termasuk Presiden, pakar, dan akademisi internasional, telah disampaikan bahwa menghadapi perubahan iklim tanpa fokus pada penanaman pohon dan pelestarian hutan adalah sebuah kesia-siaan. Upaya nyata yang harus dilakukan meliputi menanam pohon, melestarikan hutan yang tersisa, merestorasi kawasan hutan dan APL, serta menanami lahan kritis dan gundul. Ini adalah kunci utama dalam mengatasi pemanasan global dan perubahan iklim.

Sayangnya, triliunan rupiah telah dihabiskan oleh pemerintah, LSM, dan bantuan asing untuk seminar-seminar, tanpa diiringi aksi nyata yang signifikan. Seperti yang dikatakan Menteri Bappenas 2019-2024, Suharso Monoarfa, dalam rapat bersama Komisi XI DPR, “Judulnya revolusi mental, ujungnya membeli motor trail. Ada hubungannya kah?” Fenomena ini mencerminkan ketidakefisienan dalam menangani krisis lingkungan.

Kami telah berjuang dalam mengatasi krisis ekologi di Danau Toba, dari hulu hingga hilir, termasuk melawan penguasa dan pengusaha yang menghancurkan hutan dengan dalih produksi dan pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, kami menyarankan kepada pemerintah daerah dan pusat, termasuk Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, untuk menjadikan APL Tele yang sudah rusak sebagai Kebun Raya (Botanical Garden) yang dikelola bersama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Indonesia, yang merupakan bagian dari Global Geopark, memiliki jumlah Kebun Raya yang sangat sedikit dibandingkan dengan negara maju, padahal manfaatnya sangat besar.

Kegiatan Wilmar Eliaser Simanjorang setiap harinya dalam melestarkan dikawasan Danau Toba, di Dolok Pucuk Buhit Kecamatan Sianjur Mula-mula Kab. Samosir.

Sebagai langkah awal, kami telah membangun Etno Botani Batak Sigulatti di Kecamatan Sianjurmula-mula, Kabupaten Samosir, di atas lahan seluas 22 hektare yang telah diserahkan oleh masyarakat adat kepada pemerintah daerah. Sejak tahun 2010, kami aktif melakukan pembibitan dan edukasi lingkungan, khususnya penanaman pohon, baik secara mandiri maupun bersama komunitas masyarakat di lereng Dolok Pusuk Buhit.

Indonesia dan Kawasan Danau Toba seharusnya menjadi pelopor dalam menghadapi perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan, dengan mengelola sumber daya alam secara lebih baik, termasuk hutan, gambut, mangrove, energi, dan pertambangan. Saat ini, 75% emisi dunia berasal dari negara anggota G20, dan Indonesia, sebagai salah satu negara dengan tingkat deforestasi tinggi, perlu segera mengambil tindakan nyata. Mirisnya, negara non-G20 seperti Pakistan lebih serius dalam upaya penghijauan dengan inisiatif Tsunami Miliaran Pohon, yang sejak 2018 telah berhasil menanam 30 juta pohon, bahkan memanfaatkan pandemi COVID-19 untuk menyerap tenaga kerja dalam proyek penghijauan.

Kami telah merasakan sulitnya menumbuhkan satu pohon, terutama di musim kemarau, serta masih maraknya pembakaran hutan dan perbukitan di sekitar Danau Toba. Namun, kami yakin bahwa pemulihan dan konservasi Kawasan Danau Toba bisa dilakukan dengan tekad kuat dan bantuan Tuhan. Menanam pohon hari ini adalah investasi bagi kehidupan generasi mendatang. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *